Saturday, 31 January 2015

Gadis setelah hujan terakhir

Hari ini di bulan maret, seorang gadis tua yang ku kenal. Huni namanya, seorang pedagang putau di kampungku. Gadis tua yang tak pernah hilang senyumnya ketika diriku disampingnya. Menangis di tengah jalan. Raut mukanya hampir hilang. Lemparan batu mungkin sudah tidak terhitung. Dia tetap berdiri. Huni adalah seorang anak petani ganja di daerahku.

Hampir di tembak mati karna kedapatan menjual putau ke salah satu anak kepala desa di tempatku. Anak kepala desa itu meninggal overdosis. Ammir namanya, dia sahabat dari kecil. Aku pun mengenal rokok dan semacannya dari dia. Dia orang yang pertama membagi sebatang rokok yang berisi ganja. Ammir adalah orang baik. Tapi ketika mengenal Huni dia kalap. Mata Ammir seakan terpaku. Saat ku tau Ammir punya rasa yang sama seperti Huni ke diriku. Ya, seeorang bilang itu namanya cinta.

Bertemu di bulang Desember taun lalu. Diriku yang mengajak keduanya bertemu. Karna aku tau mereka akan jadi sahabat yang baik. Mereka berbicara banyak, Ammir dari pertama bertemu memang semua rasa. Yang namanya cinta sudah mengalir. Mungkin bila darahnya di ambil dan di ganti dengan oli. Dia akan tetap mencitai seseorang yang bernama Huni ini. Hari pertama Ammir merasakan putau. Dia seakan lupa pernah mengatakan putau hanya sebuah ilusi dari morfin.

Matanya seakan sudah terkunci pada Huni. Diriku hanya malaikat yang bisa mempertemukan mereka. Huni duduk di sampingku dan terus pegang tanganku erat. Alasannya pun sudah aku tahu dari pertama bertemu dengan Huni. Mungkin sama seperti Ammir ke Huni.

Tapi di hari ini bukan soal mereka berdua lagi. Pagi ini Ammir meninggal di dalam kebodohan mungkin. Setelah beberapa ucapan ke Huni yang mengisaratkaan bahwa hal yang namanya cinta itu di kirim penuh oleh Ammir. Tapi Huni mengatakan hal yang berbalik dari apa yang Ammir inginkan.

Hujan mulai turun, ini bulan Maret dan memang terasa lebih hangat. Hujan terakhir yang akan di rasa seiring dengan jiwa dan raga Huni. Siapa yang salah di sini ?

Apakah Ammir ?
Apakah Huni ?

Apakah aku yang mempertemukan kedua orang ini.

Yang jelas Ammir menghabiskan semua yang berbau narkotika dan alkohol secara bersamaan. Mungkin diriku tidak bisa mendeskripsikan bentuk dari Ammir. Huni berdiri di tengah perempatan kampung yang paling ramai. Semua orang tau seorang gadis tua yang memberikan putau untuk pertama dan terakhir untuk Ammir.

Dan aku memutuskan untuk pergi dari kampung. Membuat cacatan baru di buku yang baru. Karna aku tau ini bukan buku pertama ku tentang kisah orang bodoh seperti mereka.

No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...